Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Karanagan ini dibuat untuk memenuhi tugas mengarang bebas dalam pelajaran Bahasa Indonesia di Fakultas Ilmu Ekonomi dan Sosial UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
IBU
Sejarah Singkat, Pahit Dan Pedihnya Perjuangan Seorang Ibu Dari Kecil Hingga Dewasa Dan Berkeluarga
Empat puluh tiga tahun yang lalu, di sebuah desa yang terpencil dan jauh dari keramaian kota, lahirlah seorang gadis kecil dari keluarga yang serba kekurangan yang di beri nama Djubaidah. Ketika ia lahir, sangat memprihatinkan dan dalam keadaan yang cukup menghawatirkan. Namun setelah dia lahir ke dunia ini, kebahagiaanpun mulai terlihat dari kedua orang tuanya walaupun dalam keadaan yang serba kekurangan, tapi bagi kedua orang tua Djubaidah, kelahiran tersebut adalah suatu anugrah yang sangat di nanti-nantikan kehadirannya.
Hari demi hari dilalui oleh gadis kecil ini, hingga akhirnya dia beranjak usia balita. Namun keadaan kelurganya masih dalam keadaan yang sangat memprihatinkan, sehingga orang tuanya harus mencari nafkah dengan lebih keras lagi. Untuk mencari nafkah tersebut, orang tuanya bekerja sebagai buruh tani, dan anak gadisnya itupun diikut-sertakan olehnya sebagai buruh tani, karena untuk membantu orangtuanya mencari nafkah. Padahal usia Djubaidah baru berusia empat tahun, tapi dia sudah ikut membantu orang tuanya untuk mencari nafkah, begitu seterusnya sampai dia berusia enam tahun.
Dalam usia yang ke enam tahunnya ini, orang tuanya sudah tidak sanggup untuk merawatnya lagi, samapai akhirnya dia harus ikut bersama saudara-saudaranya yang jauh dan menetap bersama keluarga saudaranya. Namun sungguh sangat disayangkan, ternyata nasib saudara-saudaranyapun serba kekurangan. Tapi Djubaidah masih tetap mengikuti saudara-saudaranya itu, dan dia pun selalu bersabar dikala mendapat berbagai cobaan, bahkan sekalipun dalam keadaan yang sangat memprihatinkan dia masih tetap sabar dan dia selalu berpuasa dan berdo’a kepada tuhan semoga suatu saat nanti dia mendapatkan suatu kebahagiaan yang diinginkan oleh dia dan keluarganya.
Setelah dia berusia sepuluh tahun, dia mulai mengikuti pendidikan dasar di sebuah sekolah yang sangat terbatas dan serba kekurangan. Walaupun demikian, dia masih tetap berkeinginan untuk menuntut ilmu sampai dia lulus nanti, satu hal yang sangat menyentuh hati ialah dia membiayai sekolahnya itu sendiri. Memang pada saat itu dia bertekad untuk mewujudkan impiannya menjadi nyata, sehingga dia melakukan segala pekerjaan apapun yang baik dan halal, seperti menggembala kambing dan kerbau yang dia lakukan ketika berumur sepuluh sampai empat belastahun serta salah satu keahliannya dalam menjahit yang dia senangi sejak berumur enam tahun dan. Dari keahliannya ini, dia sering diminta oleh teman-temannya untuk membuatkan baju untuk mereka, dan dari sinilah dia bisa membiayai sekolahnya itu sendiri sampai akhirnya dia meneruskan ke tingkat lebih tinggi lagi. Dia meneruskan sekolahnya ke jenjang selanjutnya, yaitu Madrasah Tsanawiyah (setara dengan SLTP) dan Madrasah Aliyah (setara dengan SLTA/SMA) yang serba kekurangan pula. Di sekolah tersebut, dia mendapat bimbingan tentang ajaran agama Islam sehingga dia mengerti tentang agama Islam. Namun dalam usianya yang ke tujuh belas, dia kembali kerumah orang tuanya dan dia sering dipaksa oleh orangtuanya untuk menggembala kambing dan kerbau. Jika dia tidak mau, maka dia akan di cambuk oleh orang tuanya. Maka dengan hati yang ikhlas, dia menggembala binatang-binatang tersebut walaupun dia sering di hina oleh teman-temannya, tapi dia tetap sabar.
Sembilan tahun sudah dia lewati pendidikannya sampai akhirnya dia lulus dengan prestasi yang cukup membanggakan, sehingga dia di tawari oleh gurunya untuk mengajar di sebuah Sekolah Dasar yang cukup jauh. Tawaran itu dia terima dengan senang hati dan dia pun selalu bersabar walaupun jarak antara sekolah dan rumahnya itu sangat jauh dan membutuhkan waktu yang cukup lama, tidak hanya itu dia juga menjadi guru ngaji di rumahnya. Dalam kegiatannya itu, akhirnya ada seorang laki-laki yang di perkenalkan oleh gurunya kepada dia yang bernama H. Suryadiwardana, terpesona dengan sikapnya yang baik hati sehingga mereka mengikat hubungan mereka berdua dalam suatu pernikahan yang dilakukan secara sederhana.
Sebulan setelah pernikahannya, laki-laki tersebut mengalami kehancuran dalam usahanya, sehingga dia mengalami kebangkrutan yang cukup besar dan akhirnya jatuh miskin. Dalam kemiskinannya ini, Djubaidah selalu tetap sabar walaupun dia selalu dihina oleh tetangganya dan saudara-saudaranya yang iri hati kepada dia bahkan orang tuanyapun menginginkan pernikahannya itu segera di akhiri, tapi Djubaidah masih tetap bertahan dan tidak mau untuk berpisah dengan suaminya. Sampai akhirnya suaminya mencoba mencari pekerjaan ke kota. Waktu demi waktu mereka lewati sehingga akhirnya suaminya itu mendapatkan pekerjaan di kota, namun sungguh disayangkan suaminya itu menikah lagi dengan perempuan lain di kota. Padahal Djubaidah sedang dalam keadaan hamil, tapi Djubaidah tetap tidak ingin meminta cerai terhadap suaminya itu walaupun dipaksa oleh orang tuanya, sampai akhirnya dia di usir oleh orang tuanya dalam keadaan hamil. Djubaidah pergi merantau ke kota untuk mencari suaminya tanpa membawa uang sepeserpun, ia hanya membawa beberapa baju untuk ganti dia saja di jalan, namun pada akhirnya baju-baju tersebut dia jual untuk membiayai hidupnya sendiri. Dia berjalan kaki ke kota untuk menemui suaminya, setelah dia menemui suaminya ternyata suaminya itu sedang asik bersama istri keduanya. Setelah melihat hal tersebut, betapa sakitnya hati Djubaidah yang di khianati oleh suaminya sendiri tapi ia tetap tidak ingin meminta cerai atau berpisah dari suaminya, karena suaminya bersumpah untuk tidak menceraikan dia sampai mati sekalipun.
Djubaidah disuruh pergi oleh suaminya Oleh karena itu, Djubaidah mengalah dan memilih pergi ketempat temannya yang mengkasihani dia padahal rumah temannya itu sangat memprihatinkan, yaitu rumah tersebut terbuat dari dinding bambu ("bilik" dalam bahasa sunda) dan berada di dekat jurang pinggiran kota serta di kelilingi oleh pemakaman yang jauh dari permukiman.
Dalam keadaan hamil, Djubaidah selalu sabar dan tawakal kepada Allah bahkan dalam keadaan seperti ini, dia malah lebih mendekatkan diri kepada Allah. Suatu hari, suaminya mencari dia dan akhirnya bertemu dengan Djubaidah di rumah temannya itu, suaminya mengaku bersalah dan menyesal atas prilakunya kepada Djubaidah, dia berjanji tidak akan menghianatinya lagi sekalipun dia mati. Setelah itu, Djubaidah di bawa oleh suaminya ke sebuah rumah kosong yang tidak jauh dari tempat itu, dan disana Djubaidah di tinggal sendiri, sedangkan suaminya kembali kerumah orang tuanya. Djubaidah mencoba menyusul suaminya ke rumah orang tuanya itu, namun sungguh sangat di sayangkan orang tua dari suaminya itu tidak menganggap Djubaidah sebagai salah satu menantunya, sampai akhirnya dia pun kembali kerumah kosong itu lagi. Dalam kesendiriannya, tiba-tiba ada seorang ibu yang sangat dermawan yang tinggal di sebuah rumah yang sangat besar, maka Djubaidah yang dalam keadaan hamil itu meminta izin kepada suaminya untuk keluar dari rumah itu dan suaminyapun mengizinkan, maka di ajak oleh ibu tersebut untuk menginap dirumahnya bahkan disuruh untuk tinggal bersamanya, namun suami Djubaidah merasa tidak enak hati terhadap kebaikan si Ibu tersebut, dia merasa seorang suami yang gagah perkasa harus menitipkan istrinya itu di sebuah rumah milik seorang ibu yang sama sekali tidak dia kenal, akhirnya dia membawa istrinya itu pulang ke rumah kosong lagi. Dalam rumah itu, suami Djubaidah memberi izin kepada istrinya itu untuk berbuat sekehendaknya, asal tidak bertentangan dengan ajaran Islam.
Sementara itu, di rumah orang tua Djubaidah terjadi kericuhan yang cukup menegangkan. Orang tua Djubaidah di tegur oleh kepala desa karena mengusir anaknya itu dalam keadaan hamil, dan orang tua Djubaidahpun mencoba mencari ke kota. Sampai akhirnya Djubaidah di temukan dan di bawa pulang kembali kerumah, setibanya di rumah Djubaidah dikasih makan dan di beri perawatan yang baik. Disamping itu, Djubaidah sengaja memberitakan kepada suaminya bahwa dia telah kembali ke rumah orang tuanya, suaminya datang kerumah orang tua Djubaidah untuk menemui istrinya itu, namun orang tua Djubaidah yang mengetahui kejadian yang sebenarnya dari tetangga yang mengetahui tentang keadaan Djubaidah, merasa sangat kecewa dan benar-benar marah sampai-sampai Djubaidah di tekan dan di paksa untuk meminta cerai kepada suaminya dan mengusir suami Djubaidah. Namun Djubaidah dengan berat hati dan air mata yang tidak kunjung hentinya keluar, dia meminta kepada orang tuanya untuk tidak mengursir suaminya itu dan meminta suaminya untuk tidak meninggalkannya lagi, tapi apalah daya suaminya tetap harus pergi demi kebaikan bersama. Dengan perginya sang suami, Djubaidahpun merasa sangat bersalah dan dia mencoba menyusul suaminya itu tapi dia tidak bisa manyusulnya dan dia hanya bisa menangis di tengah-tengah sawah yang luas yang sedang diguyur hujan yang sangat deras dan disertai petir yang menyambar-nyambar. Hal tersebut sungguh sangat menyedihkan bagi seorang istri yang sedang hamil melihat suaminya di usir oleh orang tuanya.
Setelah beberapa minggu, akhirnya suaminya itu diminta untuk pulang ke rumah orang tua Djubaidah. Dengan penuh rasa gembira, suami Djubaidah itu pulang dan menjalin hidup bersama lagi walaupun dalam keadaan penuh dengan derita, hianaan dan fitnah dari saudara yang benci terhadap Djubaidah dan tetangganya yang selalu ingin melihat Djubaidah sengsara. Dalam keadaan hidup yang seperti itu, Djubaidah serta suaminya mencoba untuk selalu tetap bersabar hingga lahirnya seorang buah hati yang selalu di nanti-nanti, yaitu lahirnya anak pertama mereka. Ketika lahirnya anak pertama ini, sungguh sangat disayangkan dia lahir sama seperti ibunya yang lahir dalam keadaan yang sangat memprihatinkan dan dalam keadaan sedih bercampur bahagia, anak laki-laki yang lahir pertama itu terpaksa di bungkus dengan kain yang penuh dengan robek dan mirip dengan kain lap, anak laki-laki tersebut di beri nama "Rif’al",walaupun demikian kebahagiaanpun menghapus kesedihan yang ada. Djubaidah kini menjadi seorang ibu, dan dia berdo’a kepada Allah supaya kelak anaknya ini menjadi anak yang shaleh dan berbakti kepada orang tua, agama dan Negara.
Setelah hidup bertahun-tahun, Djubaidah dan suaminya itu di karuniai dengan dua orang anak lagi yang lahir dalam keadaan penuh dengan tekanan dan caci maki dari orang lain. Tapi Djubaidah selalu bersabar dan selalu mendidik anaknya untuk hidup sesuai dengan ajaran Islam yang dianutnya sejak lahir, dan selalu mengatakan untuk hidup hemat. Pendidikan yang ia berikan kepada anaknya itu sungguh sangat baik bagi seorang ibu untuk mendidik anaknya.
Ketika anak terakhir lahir, Allah memberi cobaan kepada Djubaidah dengan mengambil suami yang tercinta, setelah itu Allah juga memberi cobaan yang cukup besar, yaitu empat bulan setelah meninggalnya sang suami, Allah membuat anak yang terakhir mengalami penyakit yang susah untuk di sembuhkan, yaitu penyakit Headrusipalus. Setelah cobaan yang datang terus menerus itu, sang ibu dari tiga anak itu tetap sabar dan labih meningkatkan ketaqwaannya kepada Allah, dan dia selalu berdo’a semoga cobaan yang Allah berikan ini memiliki hikmah yang sangat besar. Sekian lama berdo’a, Allah melimpahkan karunianya kepada Djubaidah dengan memberinya rumah untuk tempat tinggal sendiri, karena rumah orang tua Djubaidah menjadi prahara dan selalu diperebutkan oleh saudara-saudara yang lain dan menyuruh Djubaidah untuk keluar dari rumah tersebut. Allah mewujudkan do’a Djubaidah dan akhirnya Djubaidah mendirikan rumahnya dengan jerih payahnya sendiri dan dia membawa orang tuanya itu untuk tinggal bersamanya dan dengan senang hati Djubaidah merawat orang tuanya itu yang telah keluar dari rumahnya yang dahulu, sampai orang tua Djubaidah meninggal dunia di rumah Djubaidah sendiri.
Disisi lain, Djubaidah selalu mengajarkan kepada anaknya untuk selalu hidup hemat dan selalu bersabar apabila mendapat cobaan, sesuai dengan ajaran agama Islam, sampai dia menyekolahkan anak-anaknya itu ketingkat yang lebih tinggi dan dia berharap semoga anaknya inilah yang akan membawa dia menuju kebahagiaan yang dia inginkan, walaupun tanpa adanya seorang figur suami yang seharusnya mendidik anaknya dan ikut merasakan kebahagiaan bersama-sama.
Sang ibu berdo’a, "Syukurku padamu Yaa Illahi rabbi, yang telah memberiku hikmah dari semua kejadian yang menimpaku dan semua cobaan yang selalu menghampiri di setiap waktuku, tiada yang lebih kuasa di bandingkan dengan-Mu. Yaa Allah Yaa Rabbul’alamiin, tunjukkanlah jalan yang terbaik bagi anak-anakku ini agar ia tidak tersesat dari jalan-Mu yang benar, lindungilah ia dan berkahilah ia seperti engkau memberkahi umat-Mu yang engkau mulyakan dan didiklah ia seperti engkau mendidik Muhammad, serta jadikanlah ia sebagai pelita hati bagiku dan bagi orang lain. Amiin". Demikianlah do’a yang selalu terdengar dari bibir sang ibu, yang selalu basah dengan Dzikir dan Do’a, dengan harapan ia Akan berbahagia bersama anak-anaknya itu dan kenangan akan suaminya yang dahulu.
____________________________o0o_____________________________
Karangan atau cerita ini diambil dari kisah nyata seorang ibu di mulai dari sejarah waktu dia kecil sampai dia berumah tangga. Semoga ada manfaatnya bagi pengarang khusunya dan pembaca umumnya.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Selasa, 13 Mei 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar